Menurut Tokoh-tokoh Masyarakat yang masih hidup dan masih bertempat tinggal di Gampong Kuta Barat Sabang, Gampong ini terbentuk secara resmi pada tahun 1945 yang dahulunya sebelum kemerdekaan Indonesia secara umum Gampong Kuta Barat yang menjadi bagian dari Kota Sabang merupakan daerah jajahan Belanda dan berdasarkan sejarah, Kota Sabang saat itu menjadi daerah Perdagangan, Pelabuhan Bebas dan Wisata yang sangat maju pada Zaman itu, dalam hal ini Gampong Kuta Barat yang menjadi bagian dari Kota Sabang merupakan daerah Pelabuhan dan Pusat Perdagangan.
Sejarah Gampong Kuta Barat tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Kota Sabang sebagai pelabuhan bebas (free trade zone) dan pusat pertahanan militer di Pulau Weh. Secara administratif, gampong ini terletak di Kecamatan Sukakarya dan secara historis tumbuh sebagai bagian dari pusat aktivitas ekonomi dan permukiman masyarakat sejak masa kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang. Nama \\\"Kuta Barat\\\" sendiri merujuk pada posisinya sebagai bagian dari wilayah \\\"Kuta\\\" atau pusat kota/benteng di sisi barat Sabang, yang sejak lama menjadi saksi bisu pembangunan infrastruktur pelabuhan internasional oleh Belanda pada akhir abad ke-19.
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), wilayah sekitar Kuta Barat menjadi bagian dari sistem pertahanan \\\"Kota Seribu Benteng\\\" karena posisinya yang strategis menghadap laut, yang dibuktikan dengan keberadaan berbagai bunker dan sisa pertahanan di sekitarnya. Memasuki era kemerdekaan hingga masa kini, Gampong Kuta Barat telah bertransformasi dari kawasan pemukiman padat sejarah menjadi pusat pelayanan publik dan pariwisata urban di Sabang. Gampong ini kini dikenal sebagai salah satu desa berprestasi di tingkat nasional, salah satunya karena transparansi dan keterbukaan informasi publik yang sangat baik, yang membawa nama Kuta Barat meraih penghargaan nasional pada tahun 2023.
Gampong Kuta Barat merupakan salah satu wilayah paling strategis di Kecamatan Sukakarya yang menjadi jantung aktivitas perkotaan di Kota Sabang. Secara geografis, gampong ini terletak di kawasan pesisir bagian barat teluk Sabang, hanya berjarak sekitar 0,5 kilometer dari pusat pemerintahan kota, menjadikannya pusat pemukiman yang sangat padat dan dinamis. Secara historis, Kuta Barat tumbuh berdampingan dengan perkembangan pelabuhan bebas Sabang sejak era kolonial Belanda, di mana wilayah ini berfungsi sebagai area penyangga bagi para pekerja pelabuhan dan pedagang internasional yang singgah di Pulau Weh pada masa keemasan batubara.
Dalam perkembangannya hingga saat ini, Gampong Kuta Barat telah bertransformasi menjadi desa mandiri yang sangat menonjol dalam tata kelola pemerintahan desa di tingkat nasional. Masyarakatnya yang heterogen hidup berdampingan dengan mata pencaharian utama di sektor perdagangan, jasa pariwisata, dan perikanan, didukung oleh infrastruktur perkotaan yang sudah sangat mapan. Salah satu pencapaian paling prestisius dari gampong ini adalah keberhasilannya meraih juara ketiga nasional dalam Apresiasi Keterbukaan Informasi Publik Desa tahun 2023, yang membuktikan bahwa Kuta Barat merupakan pionir dalam digitalisasi informasi dan transparansi publik di Aceh.
Selain aspek pemerintahan, profil sosial Kuta Barat kental dengan perpaduan nilai adat Aceh yang islami dan keterbukaan terhadap pendatang, mengingat posisinya sebagai pintu masuk wisatawan yang menuju berbagai objek wisata bahari. Dengan pengelolaan Kelompok Informasi Gampong (KIG) yang aktif, desa ini terus mendorong inovasi dalam pelayanan masyarakat dan pelestarian lingkungan pesisir. Sebagai bagian dari kawasan perdagangan bebas, Kuta Barat tetap mempertahankan identitasnya sebagai \\\"wajah\\\" Kota Sabang yang ramah, modern, namun tetap menjaga akar sejarahnya sebagai pusat pertahanan dan perdagangan di ujung barat Indonesia.